Senin, 12 Maret 2012

Krisis Ikat Rambut

Temen-temen, kalo yang namanya ikat rambut tuh dari dulu emang udah dikenal. Jadi nggak mungkin banget ya ada orang yang nggak tau ikat rambut. Apalagi nggak bisa beli ikat rambut. Nah, sekarang aku mau cerita sedikit tentang ikat rambut ini. 

Konyol banget deh, di baca yaa dibaca… :) 

Kemaren, aku lagi internetan di kamar. Lagi buat blog ini.., aku dibantuin ( dibantu ya dibantu… hahah ngefans amat sama Pak Tarno ) Kakak aku, Kak Amis ( nama disamarin agar orangnya nggak terkenal. Hahay :) ) Terus aku ditinggalin sendiri. Aku main aja sampe puas. 

Nggak lama, Kak Amis datang dengan rambut yang basah dan baju yang bagus. Tercium bau yang harum dari tubuhnya ( jiaaah… :), uhuyy ) yang baru siap mandi. Tapi tersirat dari wajahnya ekspresi takut telat dan cemas. Kak Amis menatapku dengan sebegitu rupa. 

Aku yang langsung menyadari hal itu bertanya, “ kenapa sih Kak? “ “ cepat minta ikat rambutnya, Kakak mau pergi.. “ Aku terdiam, melihatnya dengan tatapan yang tak dapat dijelaskan, antara kasian sama bingung. Lalu hati kecilku berkata. teriak lebih tepatnya -_-. 

BERAPA SIH IKAT RAMBUT HARGANYA?? APAKAH BBM SUDAH NAIK HINGGA HARGA IKAT RAMBUTPUN MELAMBUNG TINGGI DAN KAKAKKU TAK PUNYA IKAT RAMBUT??

 “ euh.. punya Kakak emangnya kemana? “ “ itu yang kamu pake punya Kakak, udah cepetan… Kakak udah mau telat nih.. “ Aku terdiam lagi, tatapanku kosong. Tapi di dalam hati aku berteriak. Histeris lebih tepatnya -_-. 

 BERAPA SIH IKAT RAMBUT HARGANYA?? APAKAH BBM SUDAH NAIK HINGGA HARGA IKAT RAMBUTPUN MELAMBUNG TINGGI DAN DIRIKU TAK PUNYA IKAT RAMBUT?? SEBEGITUNYA KAH SEHINGGA AKU MENUDUH KAKAKKU TAK PUNYA IKAT RAMBUT?? 

 “ cepat doong.. “ “ iya.., nih. “, kuberikan ikat rambutnya yang kupakai. Meskipun aku masih tak percaya akan diriku yang tak memiliki ikat rambut. Kini aku merasa kasian dan bingung terhadap diriku T_T. Akhirnya aku pergi tidur agar kebingunganku tidak berkelanjutan. 

Ketika aku bangun, Kakakku sudah pulang. Aku bergegas mandi sore dan kemudian memakai baju bagus. Aku mendekati Kak Amis. Kalian sudah dapat menebak apa yang akan kulakukan? 

Aku berkata, “ Kak, pinjem ikat rambutnya. Aku mau pergi beli ikat rambut.. “ Kakakku terdiam dan menatapku dengan tatapan tak percaya. Di dalam hatinya ia berteriak.. 
ADIKKU HIDUP JAMAN KAPAN SIH? MASA’ BARU BELI IKAT RAMBUT SEKARANG? KASIAN BANGET SIH HIDUPNYA?? 

 “ euh.., punya kamu yang biasa mana sih? “ “ nggak tau, tadi perasaan Adek make ikat rambut Adek yang biasa. Tapi Kakak minta terus Kakak bilang itu punya Kakak. “ 

 “ eh, ikat rambut kamu? “, Kakakku terheran-heran. Dibukanya ikatan rambutnya dan dilihatnya ikat rambutnya. “ ya ampuun.. iya nih. Ini ikat rambut kamu, mirip sih sama punya Kakak.. “, Kak Amis nyengir-nyengir. 

Aku hanya diam dan merasa dalam mimpiku yang paling konyol. “ jadi.., ini punya Adek? Punya Kakak mana? “ 

“ Kakak lupa, punya Kakak ilang semalem.. hehehe.. “ Aku diam. Kak Amis diam. Aku senyum. Kak Amis senyum. Aku tertawa. Kak Amis tertawa. Kemudian kami kembali diam. Hening… 

 “ Dek, beliin ikat rambut dong.. 

“ Dueng, weng weng weng… Cape deh! 
 Tuntas ( maaf ceritanya kagak jelas :) )

Tidak ada komentar:

Posting Komentar